Setengah pengangguran atau dianggap pengangguran atau kelihatan pengangguran. Mungkin begitu para tetangga melihat saya sehari-hari. Kadang hari kerja ada di rumah. Keseringan berangkat keluar rumah siang. Belum sore sudah pulang. Dan begitu seterusnya.
Itu pula yang kemudian, sepertinya, yang ditanyakan salah seorang tetangga yang sudah sepuh kepada istri saya.
"Wong Rumah mu kerja di mana?", tanya Nek Usman, demikian namanya biasa dipanggil.
Agak kebingunan isteri saya menyebutnya. Takut jika istilah-istilah seperti ilustrator, redaksi, kerja online tidak familar bagi Nek Usman.
"Ai, apa sajalah. Yang penting dapur ngebul Nek. Pekerjaannya di Lembaga Zakat, tapi bukan amil zakat. Tukang nulis. Kadang juga di koran, bukan wartawan tapi tukang gambar. Kadang ambil ketikan Nek", ujat Istri.
Si Nenek mangut-mangut. Entah mengerti atau tidak. Karena selanjutnya, Nek Usman melanjutkan pembicaraan dengan topik yang lain. Mungkin tidak menarik lagi.
Sedangkan saya, saat diceritakan juga mangut-mangut. Geli dan juga sekaligus resah. Lagi-lagi soal status pekerjaan. Begitu pentingnya ternyata...
Namun, terus terang saat Bagi saya saat ini, menjadi tidak penting lagi apa status pekerjaan. Yang lebih menarik minat saya adalah status penghasilan. Apakah sudah mencukupi kebutuhan dasar, apakah sudah bisa menutupi kebutuhan anak-istri? Apakah sudah bisa berzakat? Apakah sudah bisa jadi modal untuk membangun rumah?
Itu saja. Simpel dan mudah disimpulkan.
Labels: Jurnal